Teknologi

Heboh Pria Asal Cirebon Klaim Air Bisa Jadi Pengganti Bensin, Ini Fakta Sebenarnya!

Belum lama ini, media sosial sempat dihebohkan dengan penemuan alat pengubah air menjadi bensin alias bahan bakar motor, lho, geng. Penemuan itu dirancang oleh seorang warga Lemahabang, Cirebon, Jawa Barat, yang bernama Aryanto Misel.

 

Misel sendiri menamakan temuannya itu dengan nama Nikuba alias Niki Banyu. Dalam bahasa Jawa, Niki Banyu memiliki arti sebagai ‘ini air’.

Seperti pada pembahasan Jaka kali ini, alat tersebut diklaim mampu mengubah air menjadi energi mesin pembakaran (Internal Combustion Engine, ICE) untuk motor atau mobil.

Tak tanggung-tanggung, disebut-sebut alat ini hanya memerlukan 1 liter air saja untuk menempuh jarak sejauh 500 kilometer!

Wah, keren banget, dong! Lantas apakah klaim tersebut benar adanya?

Tanggapan Ahli

 

Ternyata, hal tersebut tidak serta merta dianggap baik oleh seorang Ahli Motor Bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri.

Menurut pria yang akrab disapa Prof Yus tersebut, klaim yang dikatakan Misal merupakan misleading yang perlu diluruskan, geng. Ia merasa ada yang keliru seputar proses menjadikan air sebagai bahan bakar.

“Alat itu (Nikuba) sebenarnya menggunakan energi gas HHO, bukan H2 murni,” kata Prof Yus, dilansir dari gridoto.com, Senin (23/5/2022).

 

Prof Yus menegaskan bahwa alat pengubah air menjadi H2 atau HHO tersebut tidak dapat menggantikan bensin atau bahan bakar kendaraan sepenuhnya.

“HHO (Hidrogen Hidrogen Oksigen) juga disebut sebagai gas brown,” lanjutnya.

 

Agar bisa digunakan pada mesin internal combustion, air yang dipakai untuk menjadi bahan bakar perlu melalui proses yang disebut elektrolisis, yakni ketika unsur kimia air H20 dipecah sampai menghasilkan H2.

 

“Butuh energi sebesar 180 MJ/kg untuk memproses elektrolisis air menghasilkan H2 sebanyak 1 kg agar bisa dipakai energi pembakaran,” jelas Prof Yus.

Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk bisa dipakai sebagai bahan bakar mesin internal combustion, H2 hanya menghasilkan energi sebesar 130 MH/kg. Bahan bakar diesel atau bensin sendiri bisa menghasilkan energi sebesar 40-43 MJ/kg.

 

“Berarti ada kekurangan energi 50 MJ/kg dari 180 MJ/kg kebutuhan energi untuk memproses elektrolisis air menajdi H2 sehingga bisa dijadikan energi bahan bakar,” ujarnya.

Kurang Efektif

 

Terkait hal tersebut, Prof Yus menegaskan bahwa klaim yang menyebut bahwa alat bernama Nikuba bisa menjadikan air sebagai bensin dirasa kurang tepat.

“Sekalipun dimanfaatkan untuk mesin internal combustion, H2 tetap butuh bantuan dari energi lain seperti bahan bakar fosil,” lanjut Prof Yus.

 

Sebab, katanya, kekurangan 50 MJ/kg menjadikan H2 tidak dapat digunakan sebagai energi satu-satunya untuk mesin internal combustin dan perlu bantuan bahan bakar lainnya agar konsumsinya jadi lebih irit.

 

“Dibilang pengganti bahan bakar jelas tidak bisa, tapi dibilang penghemat bahan bakar sangat mungkin. Tapi teknologi ini sudah ada lama, hanya saja memang kurang efektif,” simpul Prof Yus.

 

Lihat Juga:
marlinbooking.co.id
rskartikacibadak.co.id