Bareskrim-ikut-menyelidiki-kasus-kebocoran-data-aplikasi-eHAC
Teknologi

Bareskrim ikut menyelidiki kasus kebocoran data aplikasi eHAC

Rate this post

– Bareskrim Polri ikut membantu penyidikan kasus dugaan kebocoran data di kalangan pengguna aplikasi eHAC (Electronic Health Alert Card).

Aplikasi eHAC sendiri merupakan versi modern dari layanan health alert card yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

Bareskrim ikut menyelidiki kasus kebocoran data aplikasi eHAC

Bareskrim-ikut-menyelidiki-kasus-kebocoran-data-aplikasi-eHAC

Baca juga:
– Investigasi Kominfo terhadap kebocoran data pengguna aplikasi eHAC
– Menkominfo memastikan data pengguna eHAC aman di PeduliLindendi
– 1,3 juta data bocor, Kemenkes imbau pengguna hapus aplikasi eHAC
– Aplikasi eHAC diretas oleh hacker, jutaan data pengguna tersebar

Belum lama ini dikabarkan hacker berhasil membobol layanan Kemenkes untuk mendapatkan data pengguna aplikasi eHAC ini.

“Polri mendukung penyidikan,” kata Kabid Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono dilansir Suara.com.

Menurut Argo, Polri memiliki Direktorat Cybercrime yang dapat melakukan investigasi

terhadap kebocoran data. Namun, dia tidak membuat seperti apa penyelidikan awal itu.

“Secara teknis, tugaskan cyber investigator untuk bekerja,” kata Argo.

Sejauh ini, polisi sendiri masih memiliki pekerjaan rumah dalam kasus kebocoran data pribadi tersebut. Memori bocoran data ratusan pelanggan BPJS Kesehatan dan juga bocoran data aplikasi e-commerce beberapa waktu lalu masih segar.
Didukung oleh GliaStudio
aplikasi eHAC. (Google Play Store)
aplikasi eHAC. (Google Play Store)

Hingga kini, belum ada laporan lebih lanjut dari pihak kepolisian terkait kasus pembocoran data pribadi netizen tersebut.

Sebelumnya, vpnMentor, situs web yang berfokus pada Virtual Private Network (VPN),

melaporkan dugaan kebocoran 1,3 juta data di eHAC.

Data yang bocor itu tidak hanya yang tertera di KTP, tapi juga menyentuh data hasil tes COVID-19, paspor, data rumah sakit dan klinik yang menguji pengguna, hingga data pembuatan akun eHAC.

Kebocoran data diduga terjadi karena pembuat aplikasi menggunakan basis data Elasticsearch yang tidak memiliki tingkat keamanan yang rumit sehingga mudah dan rentan diretas.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menonaktifkan database per 24 Agustus 2021, sehingga laporan ini dirilis seminggu setelah database seharusnya tidak dapat diakses.

Kementerian Kesehatan juga menyatakan bahwa data yang diduga bocor adalah aplikasi eHAC lama yang tidak digunakan sejak Juli 2021.

Untuk kenyamanan dan keamanan yang optimal, pengguna aplikasi eHAC versi lama yang belum terkoneksi dengan aplikasi carelindungi.id diminta untuk menghapus akun dan aplikasi dari perangkat.

Baca Juga :

https://bursakamera.co.id
https://disparbudtanggamus.id
https://gadgetplus.id
https://eproposal.id
https://bprsmh-bandung.co.id
https://ligo.co.id
https://fraksipks-kabbogor.id